Sebutan Kualitas Teknik Acara (Audio)


Background Cues
Gangguan dari suara intercom (talk back) yang masuk ke dalam program yang mungkin disebabkan karena cross talk
Background Noise
Gangguan suara dari luar yang masuk ke dalam program melalui microphone
Balance Poor (volume)
Ketidaksamaan level suara antara berbagai sumber di dalam suatu program yang sama
Balance Poor (tone)
Nada (tinggi rendah frekuensi suara) yang tidak sama antara berbagai sumber di dalam suatu program yang sama
Booming
Suara bass (frekuensi rendah) yang berlebihan yang disebabkan oleh room akustik
Breaking up
Suara hilang timbul secara tidak teratur atau tidak sama sekali
Distortion Harmonic
Gangguan suara yang kedengarannya pecah yang disebabkan oleh level yang terlalu tinggi atau daerah kerja yang sistem tidak linier
High Frequencies Lacking
Kualitas suara yang tidak jernih (briliant)
High Level
Level suara yang terlalu tinggi (suara terlalu keras/kuat)
Hiis
Noise pada frekuensi tinggi yang terdengar sebagai latar belakang (mendesis)
Hum
Suara background yang mengganggu dengan frekuensi 50 Hz atau harmonicnya
Loss of Sound
Hilangnya suara pada program
Low Frequencies Lacking
Suara bernada tinggi untuk seluruh program
Low Level
Level terlalu rendah
Plops
Bunyi plop, misalnya karena mic terlalu dekat dengan sumber suara atau limiter overload
Sinchronization Error
Suara yang tidak sinkron atau sesuai dengan gerak gambar
Wind Noise
Noise yang disebabkan oleh tiupan angin pada mic

Readmore »»

Sebutan Kualitas Teknik Acara TV (Video)

After Glow
Warna Putih yang diikuti oleh streaking putih yang disebabkan oleh cahaya yang terlalu terang pada suatu area tabung kamera.
Black Crushing
Hilangnya ketajaman pada daerah gelap yang disebabkan oleh ketidaklinieran pada akhir grey scale bagian bawah.
Camera Miss Matching
Perbedaan yang nyata pada keseluruhan warna (color tone) antara pengambilan gambar yang satu dengan yang lain apbila memakai dua atau lebih kamera yang tidak sama aligning-upnya
Color Cast
Warna tipis yang merata yang tidak dikehendaki yang tetap ada, walaupun sumber berubah (misal camera : FSS)
Color Miss Matching
Perbedaan color balance dari masing-masing sumber gambar pada suatu acara
Contrast Lack Of
Gambar kurang kontras
Drop Outs
Gambar yang berasal dari VTR rusak (oxide magnetic lepas)
Cross Talk
Interferensi/gangguan dari sinyal lain
Flare
Gangguan karena refleksi lensa dari kamera, sehingga terjadi noda putih yang berpindah jika arah shooting kamera diubah
Flicker
Kesalahan scanning antara dua field yang berbeda sehingga gambar berkedip
Focus Lack Of
Berkurangnya vertikal dan horisontal focus, bila disebabkan oleh optis; maka focus berubah terhadap jarak objek ke kamera
Ghosting
Bayangan pada gambar yang disebabkan oleh refleksi/pantulan sinyal pancaran
HF Noise
Noise yang disebabkan oleh frekuensi tinggi
Hum Bars
Garis hitam horisontal yang bergerak ke arah vertikal yang disebabkan oleh induksi power supply
LAG
Bayangan tertinggal pada objek yang bergerak
Lighting Defects
Penurunan mutu gambar yang disebabkan oleh kondisi lighting
Line Jitter
Pergeseran suatu garis ke arah horisontal yang tidak beraturan
Loss of Color
Hilangnya warna-warna tertentu pada sebagian atau seluruh gambar karena sub carrier burst dan atau chrominance information kadang-kadang tidak ada
Loss of Picture
Tidak ada gambar (blank)
Microphony
Modulasi suara tercampur pada sinyal video sehingga terang-gelap gambar berubah-ubah sesuai dengan kuat lemahnya suara
VTR Editing Fault
Gangguan gambar seperti tidak lock atau tracking tidak tepat karena penyuntingan tape VTR salah
VTR Mistracking
Gambar kelihatan bergetar dan noise atau gambar hilang muncul karena kesalahan pengaturan antara head VTR dengan jejak rekaman





Readmore »»

Sekilas Televisi Lokal Bandung

Kekuatan televisi bukan hanya dilihat dari segi inovasi program atau sdmnya saja, tetapi daya pancar (transmisi), visi-misi dan pengaruh terhadap masyarakat juga merupakan suatu pengaruh yang signifikan. Di bawah ini adalah informasi beberapa televisi lokal di Bandung :

1. TVE
TVE (Televisi Edukasi) adalah sebuah stasiun televisi di Indonesia. Stasiun televisi ini khusus ditujukan untuk menyebarkan informasi di bidang pendidikan dan berfungsi sebagai media pembelajaran masyarakat. Stasiun televisi ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan Abdul Malik Fadjar tanggal 12 Oktober 2004. Studio TVE berada di Jakarta, dan memiliki afiliasi dengan stasiun televisi pendidikan di daerah. Televisi Edukasi dimiliki oleh Departemen Pendidikan Nasional. TVE mulai mengadakan kompetisi KIHAJAR Award sejak tahun 2004. Komperisi ini diadakan bertujuan untuk mencari siswa SMP yang berprestasi. Siswa yang berprestasi atau memenangkan KIHAJAR Award akan mendapat beasiswa sampai S1. Di Jawa Barat, TVE beropersi di dua kanal VHF, Bandung (SMKN 1 Ketapang) di ch 7 VHF dengan daya 0,1 KW dan Cimahi (SMKN 1 Cimahi, Jalan Leuwigajah) di ch 5 VHF.
2. IMTV
Televisi yang dulunya bernuansa musik (Indonesian Music Televisi) ini merupakan sebuah stasiun televisi lokal berkualitas tayang nasional karena telah dibeli dan didanai oleh raksasa broadcast Indonesia (MNC) yang masih satu group dengan PT. Sun Televisi Network. Berlokasi di frekuensi 22 UHF, IMTV mengudara mulai pukul 05.00 sampai 24.00 WIB dengan beragam acara talkshow live interaktif, tv magazine, news, kuis, music program, documentary dan serial kartun anak. Untuk daya pancarnya, televisi ini berada di kekuatan 10KW sehingga mampu menjangkau daerah Bandung Raya, Cimahi, Majalengka, Sumedang, Purwakarta dan sekitarnya. Coverage Summary televisi ini mentargetkan 10.914.068 audience atau sekitar 1/4 penduduk Jawa Barat



 

 3.PJTV
Televisi bejaring ini (Jawa Group), berdiri pada tahun 2005 di Bandung yang awalnya berada di channel 40 UHF dengan kekuatan pemancar 3KW. Kini telah bermigrasi ke channel 27 UHF dan isunya kini telah meng-upgrade pemancarnya menjadi 10 KW dengan estimasi coverage area Bandung Raya, Cimahi, Majalengka, Sumedang, Purwakarta dan sekitarnya.




  
4. SpaceToon
Televisi yang memiliki motto "Spacetoon Saluran Masa Depan" merupakan salah satu stasiun televisi lokal di Bandung tetapi karena berjaringan spacetoon berkualitas nasional, apalagi dimiliki oleh TVRI dan bekerja sama dengan Spacetoon International. Bahkan spacetoon juga dapat disaksikan melalui Satelit Palapa C-2 dan hebatnya lagi hadir melalui media telekomunikasi seluler dengan memanfaatkan layanan 3G yang telah diluncurkan oleh Excelcomindo (XL), Indosat dan Telkomsel. Untuk wilayah Bandung, spacetoon mengandalkan siaran teresterial analognya di channel 30 UHF dengan kekuatan transmisi di 5KW yang mampu menjangkau Bandung Raya, Cimahi, sebagian Sumedang dan Purwakarta.
 
5. STV
STV mulai mengudara pada tanggal 1 Januari 2005 di frekuensi 34 UHF. Tagline STV adalah One Tune Hade (berani tampil bagus). Dengan kekuatan daya 5 KW televisi ini mencoba menyajikan berbagai tayangan kebudayaan Bandung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode CSI, CSGI, Top Bottom Two Boxes, Analisis Kuadran dan CPI terhadap variabel-variabel layanan yang diberikan oleh pihak stasiun TV yang disesuaikan dengan dimensi kualitas pelayanan menurut Parasuraman, Zeithaml dan Berry yang terdiri dari ; bukti nyata (Tangible), kehandalan (Reliability), daya tanggap (Responsiveness), jaminan (Assurance) dan empati (Empathy), STV tercatat sebagai stasiun TV lokal terbaik dengan nilai CSI 81.86% dan CSGI -0.82. Dari metode Top Bottom Two Boxes, STV juga menempati urutan pertama dengan jumlah unsatisfield customer terendah sebanyak 6.81 % dan satisfield customer tertinggi sebanyak 58.27%



6. CT-Channel
Siarannya berada di frekuensi 36 UHF, mempunyai segementasi sebagai televisi pariwisata khususnya di daerah Jawa Barat. Televisi ini merupakan bagian perusahaan yang didirikan oleh PT Visual Insan Persada berdasarkan izin penyelenggaraan penyiaran dari KPI Pusat dan izin penetapan frekuensi dari Dinas Perhubungan Jawa Barat. Tayangan yang disuguhkan oleh stasiun ini adalah Cahaya Nusantara Televisi (CNTV). CT-Channel juga merupakan salah satu televisi yang mempunyai kemampuan nasional, karena selain dayanya yang sekualitas TV nasional (20 KW) sehingga menjangkau seputar Kota Bandung yaitu; Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Garut, sebagian Kabupaten Sumedang, Kota Cianjur, sebagian Kabupaten Bogor, dan sebagian Priangan Timur, televisi ini pun programnya disuplai dari pusat (Cahaya Nusantara Televisi). Uniknya, CT-Channel adalah satu-satunya televisi yang tidak ada kumandang adzannya karena memang televisi ini merupakan televisi dengan program-program misionaris.
 


7. Bandung TV
Bandung TV adalah stasiun televisi (TV) lokal swasta pertama di Kota Bandung, Jawa Barat. Sebagai wadah kreatifitas masyarakat Sunda, televisi ini menitikberatkan program acaranya pada upaya pencerahan masyarakat dalam segala aspek kehidupan dengan fondasi seni budaya. Stasiun ini dapat diakses melalui saluran 38 UHF. Slogannya "Jati Diri Pasundan" ditujukan dengan upaya mengangkat kembali nilai-nilai budaya dan potensi lokal yang terdapat di Jawa Barat pada umumnya dan Bandung khususnya sebagai ibu kota provinsi. Logo Bandung TV terbangun dari beberapa unsur yaitu Kembang Cangkok Wijayakusumah,Kujang,serta tulisan BANDUNG merupakan manunggaling Tri Tangtu di Buana, yakni sang Rama, sang Resi, serta sang Ratu, atau merupakan kesatuan hakiki dari sifat manusia linuhung yang silih asih, silih asah, serta silih asuh. TElevisi ini, berjaringan dengan Bali TV-Jogja TV-Semarang TV-Sriwijaya TV- Aceh TV-Surabaya TV. Dengan daya sekitar 5 KW, Bandung TV menempati urutan kedua di bawah STV dalam penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode CSI, CSGI, Top Bottom Two Boxes, Analisis Kuadran dan CPI. Bandung TV memperoleh nilai CSI 81.36% dan CSGI -0.84. Sementara dari metode Top Bottom Two Boxes televisi ini memiliki unsatisfield customer sebesar 8.54% dengan satisfield customer sebesar 57.83%.


8. TVRI Jabar
Televisi yang balik lagi di channel 40 UHF ini menurut data resminya memiliki daya antara 1 s/d 10.000 watt, Jangkauan Siaran : 35.862 km2= 81.18% dan Jangkauan Penduduk : 37.400.320 jiwa = 85.89%. Untuk informasi lebih jelasnya, lihat saja di http://www.tvri.co.id/bandung/


 
9. MQTV
MQTV mulai mengudara pada tanggal 28 Oktober 2003 melalui satelit Palapa C2 milik Indosat Group. Stasiun yang didirikan oleh Abdullah Gymnastiar ini berpusat di Bandung, Jawa Barat. Motto MQTV ialah "Sahabat Penyejuk Hati". Saat ini MQTV sudah resmi siaran menjadi TV lokal Bandung pada 60 UHF dengan kekuatan daya awal 2,5 KW yang coverage areanya mencakup wilayah kota Bandung dan sebagian kota-kota sekitarnya. Pada pertengahan 2007 televisi ini meng-upgrade pemancarnya menjadi 10 KW, tetapi karena masalah teknis kualitasnya tidak seperti yang diharapkan. Dengan kegigihan para teknisinya televisi ini mampu bangkit dari keterpurukan kualitas sinyal dengan biaya yang bisa dianggap paling-paling murah di antara televisi manapun. Seiring dengan membaiknya kualitas siarannya, MQTV berani tampil sebagai satu-satunya televisi bernuansakan religi yang tetap memperhatikan kualitas pattern dan program acaranya. Dengan kuatitas SDM yang minim, saat ini, MQTV mampu menyajikan program yang berkualitas, edutaiment dan menghibur. MQTV juga mampu menyajikan pernak-pernik grafis yang tak kalah dasyatnya dengan televisi standar nasional. Program-program yang uptodate, bisa diikuti dengan bergabung di facebook MQTV Islami.

by : Arief Yuliono, dari berbagai sumber

Readmore »»

Langkah Membuat Shot


Langkah Membuat Shot :
1. Menentukan Angle
Hal ini adalah langkah paling awal dari tugas seorang director. Tanpa langkah ini semua kru tidak bisa bekerja karena berhubungan dengan semua elemen visual yang akan diciptakan seperti camera placement, set art direction, blocking pemain dll.



2. Menentukan Blocking Pemain
Blocking pemain sangat penting karena menyangkut step berikutnya, yaitu berhubungan dengan set lighting dan set camera. kamera akan menyesuaikan pergerakan tokoh bukan sebaliknya.
Untuk mempermudah pergerakan pemain yaitu kapan dia harus bergerak dan kapan harus berhenti maka digunakan dengan cara position marking.
3. Menentukan Blocking Kamera
Blocking kamera meliputi rancangan penempatan posisi kamera , pergerakan kamera dan type shot yang akan digunakan.
4. Set Lighting dan Set Artistik.
Langkah ini biasanya dilakukan secara simultan. Lightingman dan art director akan mendesain produksinya sesuai type shot yang digunakan.
Apa saja yang dilakukan saat departemen lighting mengeset lighting ?
a. Tentukan stunt in (orang dari salah satu kru- biasaya asisten sutradra atau PA).Stunt in dibutuhkan untuk menggantikan tokoh utama yang berada di set. Stunt in ini sangat penting kedudukannya karena sangat dibutuhkan oleh departemen lighting dalam mengeset lampu untuk tokoh utama. Dengan cara ini, saat set lighting dipersiapkan, tokoh utama bisa beristirahat sambil memahami script yang akan dibawakan nanti ketika take.
b. Kasih Frame. Istilah ini adalah bahasa seorang sutradara atau program director. Cameraman bertugas memberikan gambar (frame) sesuai dengan instruksi sutradara. Teknik ini biasanya dilakukan dengan cara lock frame (kamera tidak bergerak). Jika harus bergerak dilakukan sesuai angle, type shot dan pergerakan kamera yang akan digunakan. Dengan teknik ini seorang director akan menganalisa apa yang ada dalam frame sesuai dengan keinginannya.
c. Check Frame. Semua department, penyutradaraan, camera, lighting, dan art harus selalu melihat monitor “milik” sutradara. Hal ini berhubungan dengan kebutuhan dan perubahan teknis dan estetika yang ada di frame. Dengan melihat monitor sutradara secara bersamaan akan memudahkan komunikasi secara langsung jika ada perubahan atau perbaikan yang ada di dalam frame tersebut.
d. Check Sound. Seorang sutradara harus mendengarkan sendiri suara yang muncul dari speaker/headphone, apakah sudah memenuhi syarat sesuai kebutuhan produksi. Hal ini tentunya dikomunikasikan dengan soundman atau kameraman untuk keperluan standar teknis saat itu.
5. Latihan di Set.
Latihan sangat perlu dilakukan terutama untuk pemain baru atau pemain yang belum pernah berhadapan dengan kamera. Tahap ini seorang director sangat besar perannya dalam memupuk kepercayaan diri dan mengangkat emosi pemain. Dengan komunikasi yang baik dan pendekatan yang tepat akan membuat pemain merasa nyaman dan akhirnya mampu melakukan tugasnya. Tips yang digunakan biasanya adalah menciptakan sebuah pendekatan informal sebelum shooting berlangsung. Hal ini menjadi tanggung jawab sutradara sepenuhnya terhadap pemain yang “takut” terhadap kamera sehingga menjadi ”berani” menghadapi kamera. Sutradara harus mampu meyakinkan kepada pemain bahwa pemain itu bisa melakukan tugasnya bukan karena sutradara tetapi karena pemain itu yakin terhadap dirinya bahwa ia bisa melakukannya.
Latihan dalam hal ini tidak selalu melakukan latihan seluruh scene. Latihan bisa dilakukan pada sebagian scene saja, yang penting adalah pemain merasa biasa dalam suasana set yaitu, set cahaya lampu, set lensa kamera dan elemen lainnya.
6. Take Gambar
Melakukan pengambilan gambar sesuai dengan director shot yang telah ditentukan.(master shot, cover shot, reverse shot dan insert )




Jakarta 26 Maret 2007
Fredy Aryanto


Bahan Referensi :
1. Digital Video Hand Book. Oleh : Pete May
2. Cinematography, theory and practice. Oleh : Blain Brown
3. WorkShop ; Bentuk Dokumenter: Realitas Pribadi dan Sosial, 2002
4. Pengalaman Penulis





Readmore »»

Preparation for Location Scouting


Preparation for Location Scouting

Antara Studio dan Lokasi
Studio :
- Sewa mahal
- Harga termasuk berbagai fasilitas
- Suara aman/sound proof
- Kebebasan membangun apa saja
- Lebih bisa bergerak bebas

Lokasi :
- Sewa bisa mahal , bisa gratis
- Suara pasti tidak sejernih studio
- Belum tentu bisa bongkar pasang
- Biasanya ruang gerak terbatas

Location parameter checklist :
Location parameter checklist adalah salah satu parameter untuk memilih lokasi dimana yang sering terjadi adalah ketika kita sudah menemukan sebuah lokasi yang “ bagus” atau sesuai tuntutan program, sering kali kita melupakan parameter2 ini :
1. Cahaya Lighting
- Bagaimana rencana penataan cahaya sebuah program di lokasi
- Apakah ada cukup ruang untuk taruh lampu di lokasi
- Dimana dan dari mana sumber cahaya
2. Sumber tenaga listrik
- Dimana sumber tenaga listrik
- Apakah amper listrik cukup untuk keseluruhan program yang akan kita gunakan
- Periksa kekuatan amper setiap titik listrik. Kalo tidak kuat maka dipakailah genset
- Kalau sewa genset apakah ada cukup banyak kabel dari genset ke titik lampu dan bagaimana peletakan kabelnya.
3. Suara
- Apakah lokasi cukup silent
- Apakah suara yang ada dilokasi bisa dimatikan seperti AC saat shooting berlangsung
- Bagaimana suara lingkungan sekitar? Anjing galak? anak bayi? lalu lintas? konstruksi di sekitar lokasi shooting?
- Apakah suara tersebut bisa diatasi dengan pemilihan mic yang tepat ?
4. Ruang Hijau
-Apakah ada fasilitas toilet untuk pemain dan kru ? berjauhan dengan set atau tidak?
- Apakah ada tempat untuk beristirahat untuk pemain atau guest?
- Dimana ruang make up dan ruang ganti?
- Apakah ada ruang untuk menyimpan peralatan?
- Dimanakah tempat break makan?
- Untuk shooting eksterior, apakah ada lokasi dimana orang-orang bisa berteduh?
5. Keamanan dan Pengamanan
- Apakah dibutuhkan pengamanan?
- Apakah ada tempat khusus untuk barang2 berharga?
6. Konsumsi
- Cek pemain atau kru kalau ada diet khusus, vegetarian, etc
- Atur tempat khusus sekaligus untuk istirahat pada jam makan
7. Perpindahan lokasi
-Perhitungkan waktu lebih lama dari normalnya, khusus untuk pemain dan peralatan, genset
- Usahakan selalu sebuah lokasi cadangan yang mendekati lokasi ideal yang telah ditentukan
- Apakah ada lokasi cadangan jika terjadi kendala pada lokasi yang dipilih
- Apakah sudah dibicarakan kemungkinan untuk pemakaian lokasi tersebut jika dilakukan suting ulang.

Beberapa catatan penting :
1. Cek lokasi dengan kru inti lengkap sebelum hari shooting untuk penentua angle, art dan penempatan lampu secara kasar.
2. Usahakan seluruh lokasi terpusat di satu wilayah, hindari perpindahan lokasi terlalu banyak
3. Usahakan selalu perjanjian tertulis dengan pemilik lokasi
4. Selalu siapkan lokasi cadangan



Jakarta 26 Maret 2007
Fredy Aryanto






Bahan Referensi :
1. Digital Video Hand Book. Oleh : Pete May
2. Cinematography, theory and practice. Oleh : Blain Brown
3. WorkShop, Bentuk Dokumenter: Realitas Pribadi dan Sosial, 2002
4. Pengalaman Penulis

Readmore »»

Tata Cahaya


Prinsip dasar tujuan tata cahaya adalah :
- Memberikan emosi
- Mengarahkan perhatian
- Sculpts the subject
- Memanjakan mata 
Metode Seting Tata Cahaya
1. Studio Lighting
Setting tata cahaya dilakukan untuk general (flaterred) set. Teknik ini dilakukan hanya sekali dalam mendesain tata letak sumber cahaya dari awal sampai akhir program. Tata letak sumber cahaya tidak akan berubah meskipun subyek /pemain berpindah-pindah , berbeda ukuran type shotnya, berbeda angle dan berubah letak kamera.
2. Film Lighting
Setting tata cahaya selalu berubah menyesuaikan dengan perpindahan angle kamera, perpindahan pemain dan perubahan type of shot.

Teknik dasar bagaimana mengatur sumber cahaya untuk menerangi subyek adalah :
- Direct Lighting
- Bouncing Lighting
- Blocking Lighting

Hal yang tidak boleh dilupakan dalam tata cahaya adalah bahwa penataan cahaya bukan hanya untuk menerangi subyek tetapi lebih membagi antara derah yang terang (yang terkena cahaya) dengan daerah yang gelap (digelapkan) secara proporsional dan fungsional.
Ada sejumlah pilihan umum yang harus videografer pilih dan lakukan secara teknis, yaitu apakah nanti cahayanya akan soft atau hard light? akan menggunakan teknik low key atau high key? atau sumber cahaya berasal dari dalam frame atau berasal dari luar frame?

A. Gaya dalam Tata Cahaya
Low key ( Hard light )
Distribusi cahaya dengan perbandingan antara gelap dan terang yang jelas terhadap subyek sehingga menghasilkan bayangan yang keras. Biasanya warna cahaya lebih mengarah pada warm ( membawa mood ke arah suspense, sedih,dll )
High Key ( Soft light )
Distribusi cahaya dengan perbandingan antara gelap dan terang tidak cukup jelas terhadpa subyek sehingga tidak menghasilkan bayangan yang jelas dari subyek. Biasanya warna cahaya lebih mengarah kepada cool dan menggunakan warna set yang cerah .
Graduate Tonality
Tata cahaya yang berada antara low key dan High Key.


B. Kwalitas Cahaya
1. Keras Lemahnya Cahaya ( Hard vs Soft )
Hard light datang dari sebuah sumber cahaya yang kecil ( spot) dan soft light berasal dari sumber yang besar ( flood ). Secara gampang adalah sumber cahaya yang paling keras adalah matahari siang sedangkan sumber cahaya yang lemah adalah saat matahari mendung. Hard light yang biasanya digunakan adalah HMI par sedangkan soft light bisa semua lampu tetapi lebih bagaimana teknik menerangi subyek dengan mengunakan filter diffuse atau teknik bouncing. Pada dasarnya soft light menghasilkan level light yang lebih rendah pada watt yang sama dengan digunakan hard light.
Soft light menghasilkan ambience cahaya yang tampak lebih natural. Dengan tata cahaya ini actor akan lebih bebas bergerak pada set . Tetapi kelemahannya karena membutuhkan sumber cahaya yang besar dan cahaya menyebar hampir ke seluruh penjuru, juga karena teknik soft light menghasilkan cahaya yang lemah pada subyek maka sumber cahaya harus di dekatkan pada subyek maka akan bermasalah pada saat menggunakan shot yang wide ( long shot )
2.Sudut Cahaya
Arah dari datangnya cahaya akan membentuk sugesti suasana dari sebuah adegan, waktu dan jenis lokasinya.

3. Warna Cahaya
Sering kali cahaya digunakan untuk berkreasi, tujuannya tidak mendasarkan pada realita sesuai waktu sesuai dengan suhu warna yang seharusnya (day light 5600K, tungsten 3200K)

Teknik Lighting :
1. Cahaya Natural        :   Cahaya yang berasal dari alam
2. Cahaya Artificial     :   Lampu yang digunakan untuk shooting
3. Sudut Cahaya          :   Tinggi rendahnya sudut cahaya (matahari pagi, siang, malam)
4. Kwalitas Cahaya     : - Keras lembutnya cahaya
                                        - Warna cahaya ( indikasi situasi )
5. Gaya Tata Cahaya   : - High Key,
                                         - Low Key,
                                         - Graduate Tonality

Three Point Lighting
Key Light
Sumber cahaya terbesar dan di letakkan di depan subyek. Biasanya diletakkan 45 derajat di samping kiri /kanan antara subyek dan kamera. Sumber cahaya berada di atas 45 derajat dari subyek menerangi dan ratakan terhadap wajah subyek.
Fill light
Fill light berfungsi memperhalus bayangan yang dihasilkan oleh sumber cahaya key light. Biasanya intensitasnya lebih kecil atau setengah dari pada intensitas cahaya key light. Fill light diletakkan 45 derajat disamping kamera berlawanan arah dengan letak Key light. Lebih baik penggunaan Fill Light dengan cara bouncing terhadap reflector.
Back Light
Back light berfungsi menyinari bagian belakang dari subyek. Intesitas cahayanya paling kecil diantara Key dan Fill light. Back Light diletakkan dibelakang subyek satu garis berlawanan dengan arah kamera dan 45 derajat di atas subyek. Fungsinya agar memisahkan background dan subyek, maka arah cahaya di arahkan ke leher bagian belakang subyek.
Background Light ( additional )
Berfungsi menyinari background agar lebih tercipta ilusi kedalaman .

Two Point Lighting
Key light
Menggunakan Key Light dengan cara menyinari bouncing card/ reflector sehingga sumber cahaya tia langsung menyinari subyek.
Back light atau Fill light+Background light
Sumber cahaya fill light dijadikan back light atau menggunakan teknik fill light sekalian menyinari background ( background light )

One Point Lighting
Hanya ada Key Light. Syaratnya kita harus menyediakan beberapa reflector. Key light di sini tidak menyinari subyek secara langsung tetapi tetap menggunakan teknik bouncing. Reflektor akan dipasang sebagai bouncing dari key light dan back light.

Jenis Lampu
- 7000 K - Fluorescent ( Warm-kuning Day Light/ Tungsten )
- 5600 K HMI - With Lense ( Day Light )
- 3200 K - Open Face/tanpa lensa , dedo, blonde, redhead ( Tungsten )

Jenis lampu HMI
- Compact ( Lensa fresnel )
Jenis lampu ini menggunakan satu lensa yang bisa diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan. Karena karakter cahaya yang dihasilkan adalah menyebar maka lensa ini berfungsi mengumpulkan cahaya. Keunggulannya jenisampu ini lebih flexible dan lebih murah tetapi kualitasnya tidak sebagus yang dihasilkan oleh Par.
- Par/ Par light
Jenis lampu ini menggunkan beberapa lensa yang bisa dig anti sesuai kebutuhan ( flood, medium, spot ) . Keunggulannya adalah cahaya yang dihasilkan sangat baik tetapi kurang efektif dalam pemakaian dan lebih mahal harganya. Jenis lampu ini sering digunakan dalam suting iklan.

Jenis Filter lampu :
- Conventer : Pengubah suhu warna ( CTO/CTB )
- Diffuser : Penghalus ( Soft Light )
- Color/ Effect : Menciptakan warna

Paket Standar Lighting
1. HMI 2,5 K – 2 buah
2. HMI 575 - 2 buah
3. Kino Flo 4 bank – 2 buah
4. Blonde – 5 buah
5. Rea Head – 5 buah
6. Dedo light 1 set

Harus dibedakan istilah gambar soft dan lighting yang soft ( Soft lighting ) . Gambar soft biasanya disebut Soft Focus. Gambar ini menghasilkan nuansa yang soft pada permukaan gambar ( layer ). Gambar ini sering kita lihat jika ingi menghasilkan gambar yang beauty dan nuansa lembut. Cara menghasilkan gambar ini dengan cara menggunakan filter black promise atau white promise. ( Black Promise berfungsi mengurangi resolusi warna hitam/gelap sedangkan white promis mengurangi resolusi warna terang khusunya putih ). Jika kepepet kita bisa menggunakan stocking yang kita letakkan di depan lensa kamera.

Jakarta 26 Maret 2007
Fredy Aryanto


Bahan Referensi :
1. Digital Video Hand Book. Oleh : Pete May
2. Cinematography, theory and practice. Oleh : Blain Brown
3. WorkShop, Bentuk Dokumenter: Realitas Pribadi dan Sosial, 2002
4. Pengalaman Penulis

Readmore »»

Komunikasi Antara Director dan Kameraman Sebelum dan Saat Shooting


Komunikasi antara Director dan Kameraman sebelum dan saat shooting

1. Kesepakatan istilah jenis type shot dan besar ukurannya sebelum shooting.
Yang sering terjadi di lapangan antara director dan kameraman sering kali melewatkan proses komunikasi tentang kesepakatan istilah dan ukuran shot yang ditentukan. Perlu diingat bahwa hal ini sangat sepele tetapi bisa menjadi kendala saat suting. Dan yang paling penting sebagai cameraman adalah akan berhadapan dengan berganti-ganti director, begitu juga director akan berhadapan dengan berbagai macam camareman yang masing-masing mempunyai persepsi tersendiri terhadap istilah dan entuk ukuran type shot. Maka alangkah baiknya jika director dan cameraman selalu membuat kesepakatan tentang hal tersebut sebelum shooting.
2. Istilah saat shooting
Tidak ada istilah lain yang disebut saat shooting selain istilah yang telah disepakati sebelum shooting.
3. Lead Cameraman
Teknik shooting 2 kamera Multi Camera Multi Recorder, tanpa 2 monitor dan tanpa alat komunikasi. Untuk mengakali hal ini pada dasarnya harus selalu ada lead cameraman dalam setiap produksinya. Hal ini sangat berhubungan erat dengan perpindahan type of shot yang diintruksikan sutradara kepada kameraman. Sutradara hanya berkomunikasi dengan Lead cameraman kemudian lead kameraman menginformasikan instruksi sutradara kepada rekan kameraman lainnya. Kode2 perpindahan type of shot harus disepakati sebelum shooting berlangsung.


Jakarta 26 Maret 2007
Fredy Aryanto


Bahan Referensi :
1. Digital Video Hand Book. Oleh : Pete May
2. Cinematography, theory and practice. Oleh : Blain Brown
3. WorkShop, Bentuk Dokumenter: Realitas Pribadi dan Sosial, 2002
4. Pengalaman Penulis

Readmore »»